SUMENEP, 11 Februari 2026 (Selaksa) – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari daerah pemilihan Jawa Timur XI (Madura), Said Abdullah, mengajak perempuan berperan aktif dalam merawat nilai-nilai kebangsaan melalui penguatan implementasi Empat Pilar Kebangsaan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Ballroom Hotel De Baghraf, Sumenep, Rabu. Acara tersebut dihadiri ratusan perempuan dari berbagai latar belakang.
Kegiatan itu menghadirkan dua narasumber, Hodaifah dan Indayani, serta didampingi dua tenaga ahli Said Abdullah, Moh. Fauzi, dan Slamet Hidayat.
Related Posts:
Dalam pemaparannya, Hodaifah mengatakan Empat Pilar yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika telah lama dipelajari masyarakat, namun perlu terus diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat Pilar Kebangsaan ini sudah kita pelajari sejak SMP hingga dewasa. Karena itu mari kita mengingat kembali bahwa ini adalah dasar utama menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam sikap saling menghormati dan menjunjung keadilan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Hodaifah juga menyoroti peran perempuan dalam pembangunan bangsa, yang menurutnya tidak terbatas pada jabatan publik.
“Kita sebagai perempuan, menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga dengan baik itu sudah luar biasa. Kita melahirkan generasi, dan itu bagian dari kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa UUD 1945 menjamin persamaan di depan hukum, hak atas pekerjaan, serta kebebasan beragama, dan menilai implementasi jaminan tersebut perlu terus diperkuat.
“Di dalam konstitusi sudah jelas ada hak atas persamaan di depan hukum. Tantangannya adalah bagaimana implementasinya bisa benar-benar dirasakan masyarakat,” paparnya.
Sementara Indayani menekankan pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan ras di Indonesia.
“Kita terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan ras. Itu adalah kekayaan bangsa yang tidak boleh diabaikan, apalagi dijadikan alasan untuk merendahkan yang lain,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa intoleransi dapat muncul dari hal-hal kecil dan berpotensi memicu perpecahan jika tidak diantisipasi.
“Kalau harmoni sosial tidak terjaga, yang muncul adalah intoleransi dan perpecahan. Karena itu kita harus saling menghargai walaupun berbeda,” tegasnya. (*/Red)




