Close Menu
SelaksaSelaksa
  • POLITIK
  • HUKUM
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • SOSIAL
  • BUDAYA
  • WISATA
  • EVENT
  • ADVERTORIAL
What's Hot

Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah Terdampak Puting Beliung

Hujan Lebat dan Puting Beliung Rusak 188 Bangunan di Sumenep

Jelang Ramadan, Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Panel Surya untuk Masjid di Pulau Terluar

Facebook X (Twitter) Instagram
SelaksaSelaksa
Cari di sini Subscribe
  • POLITIK
  • HUKUM
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • SOSIAL
  • BUDAYA
  • WISATA
  • EVENT
  • ADVERTORIAL
Trending
  • Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah Terdampak Puting Beliung
  • Hujan Lebat dan Puting Beliung Rusak 188 Bangunan di Sumenep
  • Jelang Ramadan, Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Panel Surya untuk Masjid di Pulau Terluar
  • Said Abdullah Usul Formula Baru Ambang Batas Parlemen
  • Geger, Mayat Mr. X Ditemukan Terdampar di Pantai Sepanjang Sapeken
  • Pemkab Sumenep Kembali Dapat Penghargaan dalam UHC Award 2026
  • JMSI Sumenep Temui Bupati Jelang HPN 2026, Bahas Profesionalisme Pers
  • PDI Perjuangan Sumenep Rayakan Ultah Megawati Bersama Pengemudi Ojol
SelaksaSelaksa
  • LENSA
  • Teknologi
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Science
  • Sports
  • Health
  • Gaming
Beranda » Dua Hari Terombang-ambing, Enam Nelayan Asal Pasean Diselamatkan di Perairan Kangean

Dua Hari Terombang-ambing, Enam Nelayan Asal Pasean Diselamatkan di Perairan Kangean

  • Selaksa
  • Maret 28, 2025
Oplus_131072
Facebook X (Twitter) WhatsApp Threads TikTok Telegram Instagram

SUMENEP, 28 Maret (Selaksa) – Kamis (27/3) pagi, matahari belum sepenuhnya naik ketika Jupri dan kawan-kawan nelayannya mengarungi perairan Kangean. Di atas perahu motor Empat Saudara, mereka berniat mencari ikan di sekitar Dusun Nyamplong Ondung, Desa Kalikatak, Kecamatan Arjasa, Sumenep. Namun, tak disangka, mereka justru menemukan enam pria yang mengibarkan bendera tanda bahaya di tengah laut.

Jupri segera mendekat. Enam pria itu terlihat lelah, dan wajah mereka menyiratkan kelelahan luar biasa. Dengan suara serak, salah seorang dari mereka mengaku sebagai Moh. Sai, nakhoda kapal yang karam dua hari sebelumnya.

Bersama lima rekannya, yaitu Hosen, Ali Wafa, Askuryadi, Johari, dan Adnan, Moh. Sai telah terombang-ambing di laut sejak Selasa (25/3) pagi setelah kapal mereka, Bintang Sempurna, tenggelam.

Related Posts:

  • Dua WNA Asal Australia Masih Tertahan di ‘Pulau Oksigen’
    Dua WNA Asal Australia Masih Tertahan di ‘Pulau Oksigen’
  • Oplus_131072
    Terbakar di Selat Bali: KM Titipan Ilahi Hampir Jadi Abu
  • IMG-20250117-WA0034
    Kisah Pilu Pak Nurdin: Guru di Sumenep yang Diancam…
  • Oplus_131072
    Kronologi KM Agung Barokah 02 Tenggelam di Perairan…

Berdasarkan keterangan Moh. Sai kepada petugas kepolisian, peristiwa tragis ini bermula pada Senin, 24 Maret 2025. Keenam warga asal Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan itu berlayar dari Kalimantan Tengah menuju Pelabuhan Kalianget, Sumenep, membawa 220 meter kubik kayu gelam.

Keesokan paginya, kapal mengalami masalah. Pompa air rusak dan meski sudah diperbaiki berkali-kali, akhirnya kapal tak bisa lagi diselamatkan. Pada pukul 10.00 WIB, Bintang Sempurna karam di sekitar perairan Pulau Giliyang, sekitar 23 mil dari daratan.

Tanpa kapal, para awak berusaha bertahan. Mereka mengikat kayu yang ada di kapal untuk dijadikan rakit darurat, menghubungkan diri satu sama lain dengan tali, dan berpegangan pada galon kosong sebagai pelampung.

Selama dua hari, mereka melawan ombak, kelelahan, dan kelaparan. Beberapa dari mereka mulai kehilangan harapan, tetapi mereka terus berjuang.

Gelombang laut akhirnya membawa mereka mendekati perairan Nyamplong Ondung pada Kamis pagi. Dalam kondisi lemas, mereka mengibarkan bendera seadanya sebagai isyarat minta tolong. Beruntung, Jupri dan nelayan lainnya melihat mereka.

Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, menuturkan, keenam korban dibawa ke rumah warga setempat, Mukaid, sebelum akhirnya dilaporkan ke Polsek Kangean.

Saat polisi tiba, para korban segera dilarikan ke Puskesmas Arjasa untuk menjalani pemeriksaan medis. Meski secara fisik mereka dalam kondisi stabil, namun secara mental mereka mengalami trauma akibat insiden tersebut.

“Dua hari di laut tanpa kepastian, hanya berpegang pada rakit seadanya, tentu meninggalkan dampak psikologis yang mendalam,” ujar AKP Widiarti. (Al/Red)

 

Leave A Reply Cancel Reply

LENSA

Desember 22, 2025

Surat Cinta untuk Ibu dari Siswa-siswi MI At-Taufiqiyah

Maret 3, 2025

Ramadan, Ruang Menjernihkan Nurani

Januari 10, 2025

Lakukan Langkah Ini agar Anak Anda Terhindar dari Bahaya Judol

Januari 10, 2025

Tips Bijak Belanja Online agar Aman dan Hemat

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

Agen BRILink di Sumenep Semakin Diminati Warga

SelaksaAgustus 26, 2025

Bupati Sumenep Tegaskan Komitmen Lindungi Petani Tembakau di Tengah Cuaca Tak Menentu

Semarak HUT Ke-80 RI, Pemkab Sumenep Gelar Lomba Masak Mie Goreng

RSUD Moh. Anwar Tetap Layani Konsultasi Kesehatan via Telemedicine Selama Libur Lebaran

Bupati Fauzi: Ramadan Momentum Menata Hati, Memperbaiki Diri

Berita Terbaru

Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah Terdampak Puting Beliung

Hujan Lebat dan Puting Beliung Rusak 188 Bangunan di Sumenep

Jelang Ramadan, Baznas Sumenep Salurkan Bantuan Panel Surya untuk Masjid di Pulau Terluar

Said Abdullah Usul Formula Baru Ambang Batas Parlemen

Geger, Mayat Mr. X Ditemukan Terdampar di Pantai Sepanjang Sapeken

Load More
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok Telegram
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Indeks Berita
© 2026 SELAKSA.CO.ID

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.