Close Menu
  • POLITIK
  • HUKUM
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • SOSIAL
  • BUDAYA
  • WISATA
  • EVENT
  • ADVERTORIAL
What's Hot

Rumah Milik Lansia di Sumenep Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp300 Juta

Dewan Pers: Verifikasi Perusahaan Pers Merupakan Hak, Bukan Kewajiban

Pengurus JMSI Jawa Timur Periode 2025-2030 Resmi Dilantik

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok Telegram Threads
SelaksaSelaksa
Cari di sini Subscribe
  • POLITIK
  • HUKUM
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • SOSIAL
  • BUDAYA
  • WISATA
  • EVENT
  • ADVERTORIAL
Trending
  • Rumah Milik Lansia di Sumenep Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp300 Juta
  • Dewan Pers: Verifikasi Perusahaan Pers Merupakan Hak, Bukan Kewajiban
  • Pengurus JMSI Jawa Timur Periode 2025-2030 Resmi Dilantik
  • RSUD Sumenep Terima Kunjungan Ombudsman RI, BPKN hingga YLKI
  • Jelang Pelantikan JMSI Jatim: Persiapan Terus Dimatangkan, Dukungan Berbagai Pihak Mengalir
  • Bupati Fauzi Ajak Warga Sumenep Perkuat Persatuan dan Gotong Royong
  • Momentum Hari Lahir Pancasila, Wakil Ketua DPRD Sumenep Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan
  • Sumenep Raih WTP 9 Kali Beruntun, Wabup: Jadikan Motivasi Perbaiki Tata Kelola
SelaksaSelaksa
  • LENSA
  • Teknologi
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Science
  • Sports
  • Health
  • Gaming
Beranda » Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah Tegaskan Kedekatan dengan NU

Halal Bihalal PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah Tegaskan Kedekatan dengan NU

  • April 12, 2026
  • No Comments

BAGIKAN

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah
  • Publisher : Selaksa
  • Editor : Redaksi

SURABAYA, 12 April 2026 – Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia (DPD PDI) Perjuangan Jawa Timur pada Minggu menegaskan kembali kedekatan historis dan ideologisnya dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam kegiatan Halal Bihalal.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menyebut Jawa Timur sebagai basis kuat perpaduan “ijo-abang” — istilah yang merujuk pada kombinasi kaum santri dan nasionalis.

Menurutnya, santri merepresentasikan basis NU, sementara “abang” mencerminkan kekuatan nasionalis yang selama ini menjadi basis PDI-P.

“Dua kekuatan ini sudah mengakar hingga ke tingkat kampung di Jawa Timur,” ujar Said dalam keterangan resminya.

Said menjelaskan, pembelahan sosial antara santri dan abangan yang pernah menguat sejak era 1950-an kini mulai mencair. Bahkan, sejumlah survei nasional menunjukkan banyak pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai warga NU menyalurkan suaranya kepada PDI Perjuangan.

“Atas dasar itu, PDI Perjuangan, khususnya di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.

Dia menilai kedua kelompok tersebut memiliki tantangan sosial-ekonomi yang serupa, termasuk keterbatasan akses terhadap pendidikan, lapangan kerja, dan peluang ekonomi, sehingga menjadi titik temu untuk bekerja sama.

Said juga memaparkan bahwa keduanya memiliki kesamaan nilai ideologis, terutama dalam menjunjung Islam wasathiyah atau Islam moderat yang mengedepankan keseimbangan, keadilan, dan toleransi serta menolak segala bentuk ekstremisme.

“PDI Perjuangan juga berpegang pada prinsip tersebut dalam menjalankan politik. Kami ingin Islam hadir sebagai rahmat yang menenangkan, bukan menakutkan, terutama bagi kelompok minoritas,” kata Said.

Said juga membuka ruang bagi tokoh-tokoh NU untuk berkiprah di PDI Perjuangan, seraya menyebut sejumlah tokoh NU telah bergabung baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kami berharap para kiai, gus, bu nyai, dan ning dapat berijtihad politik bersama PDI Perjuangan,” ujarnya.

Selebihnya, Said juga menyinggung asal-usul tradisi halal bihalal, dengan menyebut istilah tersebut diperkenalkan oleh tokoh NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, kepada Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada 1948 sebagai upaya meredakan ketegangan politik.

“Tradisi ini menjadi cara para pendiri bangsa merawat persatuan di tengah perbedaan,” katanya.

Dia menyebut halal bihalal tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sarana meredam ketegangan, mendorong kejujuran, dan memperkuat persatuan.

Di tengah pesatnya perkembangan komunikasi digital, Said mengingatkan risiko meningkatnya fenomena “post-truth”, yakni kaburnya batas antara fakta dan informasi yang keliru, terutama di media sosial.

Dia mengimbau masyarakat untuk memperkuat budaya tabayun atau verifikasi informasi, menjaga silaturahmi, serta mengedepankan akal sehat dan hati nurani dalam menyikapi informasi.

“Dalam politik, kami berkomitmen menjaga nilai kejujuran, tidak menghasut, membuka ruang dialog, dan tetap rendah hati dalam perjuangan,” tambahnya. (*/Al/Red)

Leave A Reply Cancel Reply

LENSA

Februari 20, 2026

Cara Mengatur Pola Tidur Selama Ramadan agar Tidak Ngantuk

Februari 18, 2026

Tips Sahur Sehat agar Puasa Tidak Lemas

Desember 22, 2025

Surat Cinta untuk Ibu dari Siswa-siswi MI At-Taufiqiyah

Maret 3, 2025

Ramadan, Ruang Menjernihkan Nurani

Baca Juga

Bupati Fauzi Ajak Warga Sumenep Perkuat Persatuan dan Gotong Royong

SelaksaJuni 2, 2026

Sumenep Raih WTP 9 Kali Beruntun, Wabup: Jadikan Motivasi Perbaiki Tata Kelola

Pemkab Sumenep Genjot Optimalisasi PAD

Pemkab Sumenep Gandeng Akademisi Perkuat Kualitas Perencanaan dan Penganggaran Daerah 2027

Wabup Sumenep Minta Calon Jemaah Haji Jaga Kesehatan Jelang Berangkat ke Tanah Suci

Berita Terbaru

Rumah Milik Lansia di Sumenep Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp300 Juta

Dewan Pers: Verifikasi Perusahaan Pers Merupakan Hak, Bukan Kewajiban

Pengurus JMSI Jawa Timur Periode 2025-2030 Resmi Dilantik

RSUD Sumenep Terima Kunjungan Ombudsman RI, BPKN hingga YLKI

Jelang Pelantikan JMSI Jatim: Persiapan Terus Dimatangkan, Dukungan Berbagai Pihak Mengalir

Load More
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok Telegram
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Indeks Berita
© 2026 SELAKSA.CO.ID

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.