SUMENEP, 4 September 2026 – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadikan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu pijakan dalam membangun arah perencanaan pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Pesan tersebut tercermin melalui konsep stand Bappeda yang mengangkat nuansa Keraton dan Pendopo Sumenep pada gelaran Madura Night Vaganza di GOR A. Yani Pangligur, beberapa waktu lalu.
Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan pembangunan daerah perlu tetap berpijak pada karakter, potensi, serta nilai yang hidup di tengah masyarakat.
“Bagi kami, budaya bukan sekadar ornamen. Budaya adalah identitas dan salah satu pijakan dalam membangun daerah. Karena itu, perencanaan pembangunan Sumenep harus tetap berakar pada karakter, potensi, nilai, dan jati diri daerah,” ujarnya.
Arif menjelaskan salah satu filosofi yang diangkat dalam konsep tersebut adalah mandapa, istilah dalam bahasa Madura yang berasal dari kata “mandap” yang bermakna rendah.
Secara filosofis, makna tersebut mencerminkan kerendahan hati, kedekatan, dan kebersamaan antara pemimpin dengan masyarakat.
Dalam konteks sejarah, pendopo juga menjadi ruang pertemuan antara penguasa dan masyarakat untuk berkumpul, bermusyawarah, menyampaikan aspirasi, serta membangun kesepakatan bersama.
Nilai tersebut, kata Arif, sejalan dengan fungsi Bappeda dalam mengoordinasikan proses perencanaan pembangunan agar berjalan secara partisipatif, terpadu, terarah, dan berkelanjutan.
“Mandapa memiliki makna rendah. Filosofi ini mengajarkan tentang kerendahan hati, kedekatan dengan masyarakat, dan pentingnya ruang untuk bermusyawarah. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan semangat perencanaan pembangunan yang harus mendengar aspirasi dan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Selain filosofi mandapa, desain stand Bappeda pada gelaran event tersebut juga mengambil inspirasi dari arsitektur Pendopo Agung Keraton Sumenep yang memiliki atap berbentuk limasan sinom dan ditopang oleh tiang-tiang utama atau soko guru.
Arsitektur tersebut dimaknai sebagai gambaran tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah yang kemudian diterjemahkan dalam konteks pembangunan daerah.
Arif mengatakan filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan harus memiliki arah yang jelas dan mampu mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu tujuan pembangunan daerah.
“Bappeda adalah rumah tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan. Dari sanalah kita menyusun perencanaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan merancang masa depan Sumenep,” ujarnya.
Arif menambahkan, secara konsep stand tersebut membawa pesan: merencanakan masa depan dengan berpijak pada akar budaya.
Keraton ditempatkan sebagai simbol jati diri daerah, mandapa sebagai ruang musyawarah, sedangkan Bappeda diposisikan sebagai rumah perencanaan yang menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan kebutuhan pembangunan masa depan.
“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Semuanya bermuara pada satu semangat: berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan merancang masa depan Sumenep,” katanya. (Al/Red)
